Kisah otak-otak
What I cannot see is infinitely more important than what I can see.
Bisa tebak makanan apa yang ada di gambar?
jawabannya silahkan dilihat di judul tulisan ini.
Yah benar, nama makanan di atas yaitu otak-otak.
Buat yang belum tau otak-otak itu makanan
apa!!! kasian deh loe…Bagi yang belum pernah mencicipi panganan
tersebut artinya kamu belum merasakan semua kenikmatan dunia.
Bila dilihat dari namanya otak-otak bukan berarti terbuat dari otak
(sapi*walaupun lezat tapi otak sapi terlalu lembek*,ikan,ayam *otak
ikan dan ayam kecil sesuai dengan ukuran tubuhnya, tidak terbayang
berapa ayam atau ikan yang dihabiskan untuk membuat otak-otak bila itu
bahannya*)
Otak-otak adalah panganan yang terbuat dari bahan utamany yaitu ikan
(biasanya ikan tenggiri). Tidak seperti mpek-mpek, otak-otak setahu
saya tidak memiliki bermacam-macam jenis seperti otak-otak lenjer,
otak-otak kapal selam. Otak-otak pada umumnya memiliki variasi antara
lain otak-otak bakar, otak-otak goreng, otak-otak rebus.
Cara memasaknya terkadang berbeda-beda tergantung daerah. Misalnya di
Sulawesi saya biasanya mendapati otak-otak yang direbus. Sedangkan
kalau di Jakarta dan sekitarnya otak-otak kebanyakan digoreng.
Sedangkan, di Bandung yang paling terkenal adalah otak-otak goreng.
Dengan pembukaan di atas semoga kalian tidak berpikiran
bahwa tulisan ini isinya tentang cara pembuatan otak-otak. Sejujurnya
saya juga belum pernah *dan juga bukan sang ahli* membuat otak-otak karena selama ini saya sudah cukup puas untuk memakan otak-otak yang dijual di rumah makan.
Tulisan ini pun tidak akan bercerita betapa enak dan besar otak-otak dari Sulawesi dibandingkan yang ada di Jawa.
Jadi tulisan ini tentang apa?
Semua bermula ketika kemarin, saya membawa sekantong otak-otak
bakar yang cukup imut padat untuk mas-mas dan mbak-mbak di kantor (gaya
banget yah udah jadi orang kantoran).
Orang yang pertama kali saya tawari tentunya teman seruangan saya.
Kebetulan kami berempat (ami dan 2 mahasiswa IPB yang sedang KP)
menempati satu ruangan. Setelah kami berempat kebagian jatah maka
rencananya otak-otak tersebut akan saya bagikan ke mas-mas dan
mbak-mbak dari divisi IT yang ruangannya hanya terpisah sekat dengan
ruangan kami.
Cerita berawal ketika saya menawarkan otak-otak kepada seorang teman
yang dari IPB. Pada awalnya dia menolak secara halus dengan alasan dia
belum pernah memakan otak-otak sebelumnya *hari gini..ya ampun..* dan tidak berani makan makanan yang baru *cupu deh..*
Terus terang penolakan *untungnya cuma otak-otak* seperti itu bukan yang pertama kali saya alami.
Sebelumnya pernah sekali, saya menawarkan otak-otak kepada seorang
teman dan reaksi teman tersebut hampir sama dengan reaksi teman KP saya.
Tapi jangan pikir ada yang bisa nolak saya kelezatan otak-otak karena kedua kisah penolakan yang saya alami pun berakhir sama.
Jadi, akhirnya kedua teman saya hidup bahagia tertarik ingin mencoba kenikmatan otak-otak disebabkan setelah mencium bau otak-otak yang uhhhhmmmm *I cant explain too much about itu, plss imagine by yourself*.
Yah, saya akui siapa yang bisa menyangkal kelezatan campuran ikan, tepung, daun bawang tersebut. Aromanya begitu menggoda…
Namun aroma otak-otak tersebut tidak diikuti dengan tampilan luar yang
menggoda. Bisa dikatakan tampilan otak-otak sederhana karena dibungkus
dengan daun pisang muda. Tahukah kalian? Aroma otak-otak yang khas
salah satunya berasal dari pembakaran pembakaran/rebusan pembungkusnya
tentunya daun pisang muda. Bila otak-otak tidak memiliki pembungkus
seperti itu, aroma otak-otak pun nantinya akan berbeda.
Kedua teman saya bisa dibilang awalnya tertipu dengan penampilan luar
otak-otak yang biasa saja. Untungnya, kedua teman saya tidak pergi
begitu saja sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengenal
otak-otak lebih dekat *halah emang apaan sih nih…*. Mereka pun diberi hidayah *lebih ngasal lagi* sehingga berkesempatan untuk merasakan kenikmatan otak-otak.
Bahkan teman saya kemaren sempat tergiur untuk mencoba lagi tapi sayang setelah penolakan itu saya pundung menawarkan otak-otak ke mas dan mbak di IT sehingga teman saya hanya kebagian jatah satu otak-otak.
Demikian kisah singkat tentang otak-otak. Kejadian itu mengingatkan saya bahwa tampilan luar suatu hal walaupun terkesan biasa saja namun bila di dalamnya bagus atau enak, maka hal tersebut dapat ‘tercium’ dari luar. Kemudian, seharusnya tampilan luar bukan jadi masalah
Saya teringat obrolan dengan salah seorang teman beberapa hari yang lalu. Dia menanyakan tentang alasan seorang wanita kenapa belum menggunakan jilbab. Akhirnya, saya tiba-tiba kepikiran mungkin saja salah satu alasan tersebut yaitu seperti kisah otak-otak di atas. Waktu itu sebenarnya saya menjawab hal yang berbeda.
Semoga setiap dari kita *including me..* menyadari penampilan luar bukanlah hal mutlak atau penting dari segala. Ketika apa yang ada dalam diri sudah bagus insyaAllah hal tersebut akan terlihat sendirinya tanpa harus kita ‘buka-buka’. Orang lain pun akan menyadarinya sehingga tidak perlu dengan melihat rambut yang indah maupun kulit yang mulus, kharisma seorang wanita dapat muncul.
Jadi, moral dari kisah otak-otak ini yaitu
segera cicipi otak-otak buat yang belum pernah mencoba hehehehePertama,
tampilan luar yang biasa saja akan tenggelam juga oleh apa yang
dibungkus di dalamnya. Ketika isinya itu harum/indah maka
keharuman/keindahannya akan memancar keluar secara otomatis. prinsip
tersebut juga berlaku kebalikannya
Kedua, dont judge a book by its cover. Saya tidak
ingin menjelaskan panjang lebar karena tentunya kalimat itu telah
mendunia. Namun, satu pelajaran bwt saya yaitu keindahan di dalam lebih
berharga dari apa yang terlihat kasat mata.
Kalau versi saya sih ‘cobalah melihat sesuatu apa adanya’.
Ketiga, Otak-otak has its own mistery.
Belajarlah dari makanan yang super wuenak ini karena masih banyak
pelajaran lain yang bisa diperoleh dengan mencarinya. Makanya jangan
lupa mencicipi panganan ini *sayangnya otak-otak punya saya sudah habis disantap ma teman kantor
*.
Bukan hal yang mudah untuk melaksanakan hal yang tertulis tapi lebih ‘plong’ rasanya ketika apa yang ada di pikiran bisa disalurkan secara eksplisit
The most beautiful things in the world cannot be seen or even touched, they must be felt with the heart.
Helen Keller


moja komentari soal "otak-otak" fit.. sebenernya nda semua orang suka otak-otak.. (bukan termasuk saya nah). yah, beda orang kan beda selera.. btw, good luck buat KP-nya nah Fit! mudah2n lancar2 ji..
Posted by: Fajar Herdian | July 17, 2007 10:23 AM
heits....siapa tuh yg gk suka otak2 ckckck malangnya nasibnya..temen sy aja yg gk anti ma ikan justru suka banget otak2...aneh kan daya magisnya otak2 hahhaahhaha
Posted by: 'Fitra' | July 17, 2007 07:03 PM